Kita sering membicarakan seputar ketakwaan. secara teori mudah untuk dipelajari, namun seringkali ketika mempraktekannya menjadi sulit. Ada banyak diantara kaum muslimin yang tidak konsisten antara apa yang dipelajarinya dengan yang perbuatan yang dilakukannya. Mereka mengetahui bahwa korupsi itu buruk, tetapi pada kondisi tertentu yang menyulitkan kehidupannya, dia memilih melakukan korupsi dengan alasan kepepet. Namun, karena dilakukan terus-menerus akhirnya menjadi kebiasaan. Bahkan tak lagi merasa berdosa. lalu, dimana keimanan dan ketakwaanya kepada Allah Ta'ala?
Padahal, definisi takwa menurut imam Ali bin Abi Thalib ra. adalah:
الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل والرضا بالقليل
Takut kepada Allah yang maha mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam attanzil(al-Quran) lalu mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia, dan ridha(puas) dengan hidup seadanya(sedikit)
Dari penjelasan ini sebenarnya kita bisa memahami bahwa ketakwaan adalah bagian dari takutnya kita kepada Allah Ta'ala. Jadi tak mengherankan sebenarnya jika ada orang yang berbuat maksiat dan bahkan tingkat kemaksiatannya diluar batas, itu karena memang dirinya tidak takut kepada Allah Swt. Seringkali manusia hanya takut kepada manusia lainnya, bukan kepada Allah Swt. Apakah karena manusia mudah dilihat dan membuat kita malu di hadapan manusia lainnya ketika diberikan hukuman atau teguran? Sementara Allah Ta'ala tak terlihat sehingga mudah kita akali? Naudzubillah. Allah Swt. memang tidak kita lihat, tetapi Dia Maha Melihat Jadi Waspadalah!
Takut kepada Allah Ta'ala
Ketakutan kita kepada Allah Swt. adalah ketakutan yang tepat pada tempatnya. Sebab, semua Makhuluk memang wajib takut kepada penciptanya. Tuntunan pertama agar kita tetap merasa takut kepada Allah adalah, kita wajib mengimani Allah Swt. sebagai pencipta kita. Hal ini sudah kita ikrarkan dalam kalimah syahadat, bahwa kita bersaksi bahwa tiada ilah, selain Allah Swt.
Berikutnya, kita, kaum muslimin dituntut untuk iman kepada hari akhir, dan itu berarti kita paham akan siksa dan pahala dari Allah Swt. Bukti takut kepada Allah adalah kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt dalam kehidupan ini, bahkan dalam setiap detik di mana pun. Selain itu, kaum muslimin harus yakin bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah Swt. Ketakutan Kita kepada Allah membuat kita berusaha untuk menguatkan diri agar mampu mengaitkan seluruh amal dengan hukum syara', dengan prioritas amal: yang wajib dikerjakan, amalan sunnah diupayakan, sementara yang mubah dipilih yang paling bermanfaat, tidak melakukan yang makruh, dan tentu saja yang haram wajib dijauhi atau ditinggalkan.
Mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah
Ciri seorang muslim yang bertakwa adalah mengamalkan apa yang ada di al-Quran dan as-Sunnah, yakni berdasarkan perintah Allah Swt dan RasulNya. Apa yang harus dilakukan seorang muslim dalam kaitannya dengan mengamalkan al-Quran dan as-Sunah? pertama, menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup. problem kehidupan apapun, pastikan dicari solusinya dari al-Quran. Bukan dari yang lain. kedua, menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber hukum(termasuk ijma shabat dan qiyas). Ketiga, melaksanakanya secara menyeluruh, baik untuk individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Inilah bukti ketakwaan kita dalam mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah.
Menyiapkan untuk Hari Akhir
Kehidupan ini fana, semua akan ada akhirnya, termasuk kehidupan kita. Segala pernik dunia yang kita raih berupa prestasi akademik, jabatan, penghormatan manusia, gelar akademik, status sosial, harta kekayaan dan sejenisnya semua akan berakhir dan hancur. Maka, bekal terbaik dalam hidup untuk hari akhir adalah amal shalih yang dikerjakan dengan ikhlas.
Seorang muslim harus menyadari keberadaannya di dunia, dan menjadikan dunia sekedar alat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, bukan tujuan akhir. Itu sebabnya, jangan mudah terpesona atau terperdaya dengan gemerlap dunia yang sebenarnya semu-bahkan menipu. Jangan pernah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, jika kita benar-benar takwa kepada Allah Ta'ala.
kekayaan dan harta yang dimiliki seorang muslim, seharusnya bukan menjadi ukuran kemuliaannya, tetapi seharusnya menjadikan harga untuk membantu yang miskin dan membantu perjuangan menegakkan syariat Islam. Ketika ditakdirkan diberikan jabatan oleh Allah Swt., pastikan bahwa jabatan tersebut membawa manfaat dan maslahat. Jabatan yang kita dapat digunakan untuk menghilangkan kesulitan rakyat dan untuk membantu mewujudkan keberhasilan perjuangan Islam.
Kebahagian di dunia ini hanya bagian kecil yang bisa kita raih dari luasnya kebahagian akhirat. Akhirat adalah tujuan utama dan tujuan akhir. Allah Swt. berfirman:
وابتغ فيما ءاتنك الله الدار الاخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا
"Carilah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu akan negri Akhirat dan jangan lupakan bagianmu di dunia." (QS al Qashash:77)
Imam Jalaludin al-Mahalli dan muridnya, yakni Imam Jalaludin as-Suyuthi dalam tafsirnya, yakni Tafsir Jalalain menuliskan bahwa pengertian "jangan lupakan nasibmu di dunia, yakni hendaklah beramal di dunia untuk akhirat. ini artinya, dunia ini adalah ladang amal untuk bekal di akhirat kelak.
Ridha dengan Pemberian Allah
Adakalanya manusia merasa putus asa dan selalu mengeluh dengan kondisi kehidupan yang dialaminya ketika gagal meraih keinginan, lalu berputus asa dan sering mengeluh. Bahkan dalam kondisi tertentu yang amat menyulitkan dalam episode kehidupannya ia bahkan berburuk sangka kepada Allah. Naudzubillah min dzalik.
Padahal, salah satu ciri dari seseorang yang bertakwa menurut imam Ali bin Abi Thalib ra.adalah ia ridho dengan pemberian Allah Swt. meskipun sedikit. dalam kondisi ini, kita harus meningkatkan keimanan kita terhadap takdir dan qadha Allah Swt. Kita juga harus menempatkan takdir Allah sebagai jalan menuju surga, bukan neraka. Kesulitan dalam hidup adalah ujian. Kita harus bertahan dan berusaha melepaskan kesulitan tersebut dengan kunci kesabaran. Sabar atau segala ujian adalah bagian dari ketakwaan kita kepada Allah dan merasa ridho dengan takdir-Nya. ketika diberikan kemudahan, hakikatnya juga adalah ujian dari Allah Ta'ala, maka agar tak terjerumus menjadi lupa diri dan melupakan Allah, kuncinya adalah syukur.
Allah Swt. berfirman:
وسار عؤا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموت والارض اعدت للمتقين
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS Al Imran: 133)
Nah, kunci ampunan dari Allah adalah kita wajib untuk bertaubat dan taat. Ketaatan adalah perwujudakan dari ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala. Melaksanakan perintahNya, menjauhi larangannya. Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hambaNya yang bersyukur, bersabar, taat, ridho dan senantiasa melakukan amal shalih demi mengharap keridhaanNya semata serta menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan dunia demi meraih kenikmatan akhirat. Wallahu'alam.(kumpulan Kultum Ramadhan Ideologis)
Kehidupan ini fana, semua akan ada akhirnya, termasuk kehidupan kita. Segala pernik dunia yang kita raih berupa prestasi akademik, jabatan, penghormatan manusia, gelar akademik, status sosial, harta kekayaan dan sejenisnya semua akan berakhir dan hancur. Maka, bekal terbaik dalam hidup untuk hari akhir adalah amal shalih yang dikerjakan dengan ikhlas.
Seorang muslim harus menyadari keberadaannya di dunia, dan menjadikan dunia sekedar alat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, bukan tujuan akhir. Itu sebabnya, jangan mudah terpesona atau terperdaya dengan gemerlap dunia yang sebenarnya semu-bahkan menipu. Jangan pernah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, jika kita benar-benar takwa kepada Allah Ta'ala.
kekayaan dan harta yang dimiliki seorang muslim, seharusnya bukan menjadi ukuran kemuliaannya, tetapi seharusnya menjadikan harga untuk membantu yang miskin dan membantu perjuangan menegakkan syariat Islam. Ketika ditakdirkan diberikan jabatan oleh Allah Swt., pastikan bahwa jabatan tersebut membawa manfaat dan maslahat. Jabatan yang kita dapat digunakan untuk menghilangkan kesulitan rakyat dan untuk membantu mewujudkan keberhasilan perjuangan Islam.
Kebahagian di dunia ini hanya bagian kecil yang bisa kita raih dari luasnya kebahagian akhirat. Akhirat adalah tujuan utama dan tujuan akhir. Allah Swt. berfirman:
وابتغ فيما ءاتنك الله الدار الاخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا
"Carilah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu akan negri Akhirat dan jangan lupakan bagianmu di dunia." (QS al Qashash:77)
Imam Jalaludin al-Mahalli dan muridnya, yakni Imam Jalaludin as-Suyuthi dalam tafsirnya, yakni Tafsir Jalalain menuliskan bahwa pengertian "jangan lupakan nasibmu di dunia, yakni hendaklah beramal di dunia untuk akhirat. ini artinya, dunia ini adalah ladang amal untuk bekal di akhirat kelak.
Ridha dengan Pemberian Allah
Adakalanya manusia merasa putus asa dan selalu mengeluh dengan kondisi kehidupan yang dialaminya ketika gagal meraih keinginan, lalu berputus asa dan sering mengeluh. Bahkan dalam kondisi tertentu yang amat menyulitkan dalam episode kehidupannya ia bahkan berburuk sangka kepada Allah. Naudzubillah min dzalik.
Padahal, salah satu ciri dari seseorang yang bertakwa menurut imam Ali bin Abi Thalib ra.adalah ia ridho dengan pemberian Allah Swt. meskipun sedikit. dalam kondisi ini, kita harus meningkatkan keimanan kita terhadap takdir dan qadha Allah Swt. Kita juga harus menempatkan takdir Allah sebagai jalan menuju surga, bukan neraka. Kesulitan dalam hidup adalah ujian. Kita harus bertahan dan berusaha melepaskan kesulitan tersebut dengan kunci kesabaran. Sabar atau segala ujian adalah bagian dari ketakwaan kita kepada Allah dan merasa ridho dengan takdir-Nya. ketika diberikan kemudahan, hakikatnya juga adalah ujian dari Allah Ta'ala, maka agar tak terjerumus menjadi lupa diri dan melupakan Allah, kuncinya adalah syukur.
Allah Swt. berfirman:
وسار عؤا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموت والارض اعدت للمتقين
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS Al Imran: 133)
Nah, kunci ampunan dari Allah adalah kita wajib untuk bertaubat dan taat. Ketaatan adalah perwujudakan dari ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala. Melaksanakan perintahNya, menjauhi larangannya. Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hambaNya yang bersyukur, bersabar, taat, ridho dan senantiasa melakukan amal shalih demi mengharap keridhaanNya semata serta menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan dunia demi meraih kenikmatan akhirat. Wallahu'alam.(kumpulan Kultum Ramadhan Ideologis)

0 Response to "Hakikat Takwa"
Post a Comment